Renungan-001

Drs. H M Taufiq AB

Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an

Rasulullah SAW bersabda : Ad du’aau mukhul ‘ibaadah (doa itu adalah otakknya ibadah). Ad du’aaul silaahul mu’miniin (doa itu adalah senjatanya kaum muslimin). Bahkan orang yang tidak berdoa, atau sedikit berdoa, dikatagorikan oleh Allah sebagai orang yang sombong. (QS Ghofir : 60). Maknanya : Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.

Suatu saat Abu Bakar Shidiiq bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang paling penting yang harus diungkapkan di hadapan Allah sesudah melaksanakan shalat. Rasulullah SAW mengajarkan kepada Abu Bakar agar minta keyakinan, supaya yakin akan janji Allah. Sebab para ulama mengatakan : la halakid dunya ahwanu ‘indallah min an laa yuhaqiq ba’dahu. (hancurnya dunia ini lebih ringan di hadapan Allah dibandingkan dengan janjiNya tidak ditepati) Allah pasti menepati janjiNya. Tetapi tidak semua orang yang sudah mengaku beriman, berislam, yakin bahwa Allah akan menerima doanya. Padahal yakin adalah syarat bisa diterimanya sebuah doa. Rasulullah SAW bersabda : Salullaaha wa antum muqinuuna bil ijaabah (jika berdoa kepada Allah, kalian harus punya keyakinan yang mantab bahwa Allah pasti akan menerima doa itu).

Kisah tentang Bani Israil bisa dijadikan pelajaran. Bahwa Allah SWT memberitahukan kepada mereka, bahwa kalau mereka punya keyakinan yang kuat, berlaku sabar, maka nanti akan dimunculkan pemimpin-pemimpin, pemuka-pemuka agama yang diridhohi Allah SWT, dan yang bisa mengajak umat manusia untuk diselamatkan hingga sampai menuju surga. (QS As Sajadah : 24). Maknanya : Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.

Kita sering tidak berani bershadaqah, sedikit bershadaqah, ragu bershadaqah, karena belum mantapnya keyakinan dan belum kuatnya keimanan. Padahal Rasulullah SAW : Ash shadaqatu burhaan (shadaqah itu bukti keimanan). Harta tidak akan berkurang dengan bershadaqah, bahkan bertambah, bahkan bertambah, bahkan bertambah. Dengan bershadaqah, harta akan semakin banyak, barakah akan dilipahruahkan oleh Allah kepadanya, dan itu memerlukan keyakinan. Namun, kalau kita di dalam bershadaqah, tidak memperhatikan kebersihan keikhlasan dan kebersihan mencari nafkah, maka apa yang kita upayakan itu akan sia-sia. Yang diterima oleh Allah adalah amalan-amalan orang-orang yang ikhlas, amalan orang-orang bersedekah yang halal. Bukan harta dari hasil korupsi, bukan harta hasil penipuan. Orang yang beriman pasti mencari nafkahyang diridhohi oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman di lima ayat pertama pada surah Al Baqarah. Maknya : 1. Alif laam miin 2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. 3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Laa raib (tidak ada sedikitpun keraguan). Allah tidak mengatakan laa syakka (tidak ada keraguan). Jadi kalau kita meragukan Al-Qur’an sedikit saja, maka sudah tidak disebut tidak mengimani Al-Qur’an. Al Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Bagaimana pola hidup orang yang bertaqwa? Pertama, meyakini apa yang tidak mereka lihat. Bahwa nanti ada barzah, ada hisab, ada surga, ada neraka dll. Mereka berfikir, saya harus menjadi orang surga, sehingga jalur untuk menuju surga tidak akan sulit lagi untuk dilalui. Tetapi, kalau orang yang imannya setengah-setengah, maka tidak akan sampai ke surga. Kedua, membangun shalat. Bagi orang yang beriman, shalat adalah urusan yang besar. Maka, mereka akan membesarkan shalat. Ketiga, menginfaqkan sebagian hartanya. Keempat, beriman kepada kitab suci AlQur’an dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Kelima, yakin akan adanya akhirat.

Iman yang ada dalam hati seorang Muslim tidak tetap dalam satu keadaan, selalu mengalami perubahan. Terkadang naik, terkadang turun. Fluktuasi iman ini sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Rasulullah SAW tidak mengingkari keadaan iman yang demikian, oleh karena itu beliau mendorong dan memberi arahan kepada umatnya untuk selalu memperbaharui dan menjaga kondisi iman supaya jangan sampai turun drastis, yang pada akhirnya akan mengantarkan ke dalam jurang kehinaan. Karena dengan kondisi seperti itu akan mudah mengantarkan seseorang untuk berbuat dosa.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga keimanan kita dan senantiasa meningkatkannya, apalagi di zaman sekarang ini, di mana kemaksiatan semakin merajalela di tengah kita, yang apabila tidak waspada, bisa terperosok ke dalamnya.

Materi ini telah disampaikan di khutbah Jum’at Masjid Al Akbar Surabaya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.