Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1436 H.

Perayaan tahun baru hijriyah adalah sebuah momentum penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam rangaka evaluasi ibadah kita di tahun lalu. Namun dalam prakteknya kita lebih ingat pergantian tahun baru masehi dari tahun baru hijriyah. Memang menyambut tahun baru hijriyah tidak serta merta harus seperti tahun baru masehi yang melibatkan anak-anak, remaja bahkan sampai orang tua termasuk media masa ikut mendukung pergantian tahun baru tersebut. Merayakan tahun baru dilakukan dengan cara-cara Islami yang mengedepankan unsur ibadah, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, keselamatan sehingga pada akhirnya meskipun tidak gegap gempita seperti memperingati tahun baru masehi. Berapa banyak remaja yang kecelakaan ketika tahun baru masehi ditambah dengan merayakan dihotel2, tempat2 terlarang sambil minum-minuman keras, berjudi atau bahkan melibatkan wanita. Berhasilnya memperingati tahun baru hijriyah tahun 1436 H ini bisa diukur dengan seberapa besar dampak negatif yang ditimbulkan ketika memperingati tahun baru masehi 2015 M nanti. Berikut adalah sebuah renungan tuk menyambut tahun baru hijriyah ini. Sayidina Umar Ibn Khaththab R.A. mengajarkan “hasibu anfusakum qobla antuhasabu” sebuah muhasabah mengevaluasi diri lebih baik dari mengevaluasi orang lain. Ahli hikmah berdasarkan amalan yg dilakukan Nabi menjelaskan bagaimana amalan akhir tahun tuk perbaikan di tahun mendatang. 1.Musyahadah : meningkatkan pemahaman syahadat tauhid dan rasul yang sebenarnya dengan cara melaksanakan inbadah yang hanya mengaharap ridhoNya dan syafaatnya belaka. 120 hari seseorang diciptakan sudah menyaksikan bahwa Allah adalah Tuhannya. Namun kadang karena dunia menjadikan silau dan lupa janji sucinya. 2.Mu’ahadah : ketika baca iftitah kita telah menyatakan bahwa sholat, ibadah, hidup, dan mati kita untuk Allah Tuhan semesta Alam oleh karenanya dalam kehidupan dunia kita coba melaksanakan janji itu meskipun sekecil mungkin dengan teman kita, saudara kita bahkan seorang pemimpin dengan rakyatnya. 3.Muqorobah : melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan cara mendekatinya melalui dzikir, sholawat, dan kalimah toyibah lainnya dan hubungan baik sesama manusia bahkan kepada lingkungannya. Qurban, pengorbanan, rela berkorban, legawa adalah sebua amalan muqorobah 4.Muroqobah : menutupi kekurangan dalam amal ibadah, kadang didalam ibadah ritual kita kurang sempurnna maka kita berusaha dengan amal sosial yg ikhlas. Kita sering merasa sholat kita, bacaan Al Qur’an kita, ilmu agama kita lebih baik dari orang lain tapi disisi lain banyak menyakiti orang lain, bahkan mengkafirkan orang lain padahal hati kita masih “kafir” (tertutup). Maka berbuat baik kepada orang lain adallah sebuah keniscayaan tuk menebus dosa2 kita yg kadang tidak kita sadari. Hal ini sebagaimana diajarkan Nabi “Bertaqwalah dimana saja kamu berada, tutup berbuatan jahatmu dengan perbuatan baik dan pergauilah manusia dengan baik”. 5. Mu’aqobah : Selalu merasa diawasi oleh Allah. Dalam diri kita ada 2 CCTV hypercomputer yang memntau sekecil apapun aktivitas kita yakni Raqib dan Atid yang memotivasi kita tuk berbuat hanya dalam ridhoNya. Inilah “Etika otonom” yang memberikan pengawasan melekat dalam diri kita. “The eyes of The Lord are in everyplace beholding the evil and good” (Mata Tuhan ada dimana2 sambil melihat yang jahad dan baik). Akhirnya marilah kita berdoa di akhir tahun ini semoga kita diberi kekuatan tuk lebih baik lagi di tahun 1436 H nanti. Aamiin.

This slideshow requires JavaScript.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.